Skip to content

Standar Perencanaan Struktur Baja Tahan Gempa untuk Gedung Bertingkat

Perencanaan struktur baja tahan gempa untuk gedung bertingkat di Indonesia mengacu pada empat Standar Nasional Indonesia (SNI). SNI 1726:2019 dipakai untuk menghitung beban gempa. SNI 1729:2020 mengatur spesifikasi baja struktural. SNI 7860:2020 memuat ketentuan seismik, dan SNI 7972:2020 mengatur sambungan balok-kolom yang sudah terprakualifikasi. Tujuan standar ini bukan membuat gedung kebal gempa, tetapi memastikan gedung tidak runtuh dan penghuninya sempat menyelamatkan diri. Baja punya modal bagus untuk itu karena sifatnya daktail, artinya mampu melentur cukup jauh sebelum patah. Namun kinerja di lapangan sangat ditentukan oleh detail sambungan dan mutu pelaksanaan, bukan sekadar pilihan material.

Standar apa saja yang jadi acuan?

SNI adalah standar yang ditetapkan Badan Standardisasi Nasional (BSN). Untuk gedung baja bertingkat, kombinasi berikut yang biasanya dipakai bersamaan:

  • SNI 1726:2019 tentang tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan nongedung. Standar ini ditetapkan BSN pada Desember 2019 sebagai revisi SNI 1726:2012. Naskah lengkapnya bisa diunduh di situs Ditjen Cipta Karya.
  • SNI 1729:2020 tentang spesifikasi bangunan gedung baja struktural.
  • SNI 7860:2020 tentang ketentuan seismik untuk bangunan gedung baja struktural.
  • SNI 7972:2020 tentang sambungan terprakualifikasi untuk rangka momen khusus dan menengah baja pada aplikasi seismik.
  • SNI 8369:2020 tentang praktik baku pelaksanaan bangunan gedung dan jembatan baja.

Kelima standar terakhir ini ditetapkan BSN pada Juli 2020, seperti tercantum dalam surat keputusan BSN yang dimuat Ditjen Cipta Karya. Untuk tanggal wajib berlakunya, cek langsung ke regulasi PUPR terbaru karena sumber yang beredar tidak seragam.

Kenapa Indonesia butuh standar seketat ini?

Jawabannya ada di data. Menurut BMKG, sepanjang 2025 tercatat 43.439 gempa di Indonesia. Sebagian besar di bawah magnitudo 5, dan 153 kejadian lebih besar dari itu. Sebanyak 973 gempa dirasakan masyarakat dan 25 di antaranya menimbulkan kerusakan. Analisis Badan Geologi atas data 1980–2024 juga menunjukkan bahwa 12–15% kejadian gempa dunia terjadi di wilayah Indonesia.

Pemahaman kita soal sumber gempa juga terus bertambah. Peta gempa 2010 hanya memuat 81 sesar aktif, sedangkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa 2017 mengidentifikasi 295. Sesar adalah patahan di kerak bumi tempat gempa bisa berpusat. Menteri PUPR saat itu menegaskan bahwa dengan data baru ini “standar keselamatan yang digunakan akan semakin tinggi”. Artinya, data baru tidak menghambat pembangunan, tetapi menuntut perencanaan yang lebih hati-hati.

Gempa seperti apa yang dijadikan dasar desain?

Banyak orang mengira gedung didesain untuk gempa terkuat yang mungkin terjadi. Kenyataannya lebih bernuansa. SNI 1726:2019 memakai parameter Ss dan S1, yaitu percepatan spektral (respons gedung terhadap getaran) pada periode 0,2 detik dan 1 detik. Nilainya diambil dari peta gempa dengan kemungkinan terlampaui 2% dalam 50 tahun, yang disebut gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko-tertarget (MCER). Angka ini setara periode ulang sekitar 2.500 tahun.

Untuk spektrum desainnya, nilai MCER itu dikalikan 2/3. Prinsipnya, ada margin 1,5 terhadap keruntuhan.

Selain lokasi di peta, beban desain juga dipengaruhi kelas situs (jenis tanah di bawah gedung), kategori risiko, dan Kategori Desain Seismik (KDS). Dua gedung identik di dua jenis tanah bisa menerima beban yang berbeda.

Tahan gempa berarti tidak rusak?

Tidak. Sebuah jurnal teknik sipil menegaskan bahwa perencanaan tahan gempa adalah pendekatan preventif untuk menekan korban jiwa dan kerugian, “bukan untuk membuat bangunan yang sepenuhnya tahan gempa”. Gedung boleh rusak, asalkan tidak runtuh.

FEMA (badan penanggulangan bencana Amerika Serikat) menyimpulkan hal serupa setelah gempa Northridge. Gedung rangka momen baja yang rusak memenuhi maksud dasar kode bangunan: kerusakan struktur terbatas dan tidak runtuh. Meski begitu, kerugian ekonominya besar. Karena itu, untuk gedung bisnis, perencanaan yang baik juga soal seberapa cepat gedung bisa dipakai lagi.

Pelajaran Northridge: baja pun bisa gagal kalau detailnya salah

Gempa Northridge 1994 (M6.7) menewaskan sekitar 60 orang dengan estimasi kerugian hingga US$50 miliar. FEMA menyebut salah satu pelajaran terpentingnya adalah “unacceptable performance of steel moment resisting frame construction” (kinerja yang tidak dapat diterima dari konstruksi rangka momen baja). Padahal sebelumnya sistem ini dianggap salah satu yang terbaik. Gedung yang mengalami retak getas pada sambungan las tingginya dari 1 sampai 26 lantai.

Dari sini kita belajar bahwa “material daktail” tidak otomatis berarti “gedung daktail”. Dua konsep berikut menjadi inti SNI 7860:2020.

Kolom kuat, balok lemah

Pada Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK), balok dirancang meleleh lebih dulu dan membentuk sendi plastis, yaitu titik yang melentur sambil menyerap energi gempa. Kolom tidak boleh gagal lebih dulu. Konsep ini disebut strong column–weak beam (kolom kuat–balok lemah), dan diperiksa lewat rasio momen kolom terhadap balok di setiap join. Riset terbaru menemukan bahwa kombinasi profil yang memenuhi semua syarat geometri, kapasitas momen plastis, dan rasio ini ternyata terbatas. Kendala utamanya adalah kelangsingan kolom.

Sambungan terprakualifikasi

Retak getas Northridge terjadi di sambungan balok-kolom. Karena itu SNI 7860:2020 dan SNI 7972:2020 mensyaratkan sambungan SRPMK memakai tipe terprakualifikasi (sudah teruji dan tercantum di standar) atau diuji sendiri. Sumbernya sama dengan riset di atas.

Catatan praktis dari sisi lapangan

Beberapa hal yang menurut kami layak dicek sejak awal, di luar sekadar lolos hitungan:

  1. Cek kesesuaian profil dengan syarat seismik sejak tahap desain awal. Ketersediaan profil baja di pasaran ikut menentukan apakah syarat daktilitas dan kolom kuat–balok lemah bisa terpenuhi.
  2. Samakan gambar, model analisis, dan kondisi pelaksanaan. Detail sambungan yang dihitung harus persis yang dikerjakan. SNI 8369:2020 mengatur praktik pelaksanaannya.
  3. Libatkan pengawasan mutu pengelasan dan pemasangan baut. Pelajaran Northridge ada di sambungan, bukan di batangnya.

FAQ

1. Apakah struktur baja lebih tahan gempa daripada beton?

Baja memang bersifat daktail dan banyak dipakai untuk gedung di zona gempa tinggi. Tetapi tidak ada pemenang mutlak. Kinerja akhir bergantung pada sistem struktur, detailing, dan pelaksanaan, jadi bandingkan per proyek, bukan per material.

Sebuah makalah seminar menyebut SRPMK baja tidak memiliki batasan tinggi pada kategori desain seismik apa pun. Sistem struktur lain punya batasan tersendiri, jadi cek tabel di SNI 1726:2019 sesuai sistem yang dipilih.

Minimal SNI 1726:2019, SNI 1729:2020, SNI 7860:2020, dan SNI 7972:2020 untuk SRPMK, ditambah SNI 8369:2020 untuk pelaksanaan.

Prinsip desain agar balok leleh lebih dulu dan kolom tetap utuh, sehingga gedung tidak runtuh saat gempa besar.

Pada akhirnya Pentingnya Standar Perencanaan Struktur Baja Tahan Gempa untuk Gedung Bertingkat pada Rangka Baja Konstruksi, tim Perdana Delta Abadi siap membantu mulai dari perhitungan struktur sampai eksekusi di lapangan.